background

Jeda

Bukankah jeda adalah tanda bahwa manusia terlahir dengan bermacam keterbatasannya?

Boleh jadi, suatu ketika nanti, saya akan termenung menyesali keputusan saya untuk berhenti dari hubungan ini.

Menyesal karena terlanjur berjalan menjauhi mimpi yang telah kita angankan bersama.

Menyesal karena terlanjur mengucapkan selamat tinggal untuk semata membuktikan bahwa keinginan berpisah ini tak mengada-ada.

Boleh jadi, dalam hati saya hanya ingin kamu mengubah caramu mengeja cinta menjadi janji agar tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Tapi sama sekali pinta itu tak bersuara.

Saya malah menggunakan kata “jeda” untuk menyamarkan ego.

Seolah meyakini bahwa yang mengakhiri adalah yang menjadi pemenang dari hubungan ini.

Saya menggunakan kata “jeda” juga untuk menenangkan hati.

Bahwa masih ada kemungkinan bersama, asal kamu setuju untuk mendekap saya, meminta maaf tanpa diminta.

Tapi saya selalu percaya bahwa demikianlah jeda tercipta.

Jeda akan membuat hati saya meronta, segera setelah perpisahan terlaksana.

Entah meronta karena bahagia telah terlepas dari neraka dunia

Atau malah meronta duka karena baru saja melewati kebaikan Tuhan dengan wujud seorang manusia.

Apapun itu...

Saya memilih berjeda...


Nov 01, 2017 Che